MEULABOH, PenaPubliknews.net — Kabupaten Aceh Barat dahulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil buah rumbia terbesar, yang pasokannya bahkan beredar hingga ke pasar Provinsi Banda Aceh. Namun kini, keberadaan buah rumbia di daerah ini nyaris tinggal kenangan, sudah sekitar 15 tahun lamanya pohon rumbia tak lagi menghasilkan buah seperti sedia kala.
Hilangnya buah rumbia turut dirasakan oleh para pedagang rujak di Meulaboh. Evie, salah satu pedagang rujak di kota ini, mengungkapkan bahwa tanpa adanya buah rumbia, ia terpaksa menggantinya dengan salak, ketela madu, dan buah-buahan lainnya. Meski demikian, "rasanya tidaklah sama seperti keaslian rujak rumbia yang kami jual di masa lalu," ujarnya saat ditemui, Sabtu pagi, (17/10/2026).
Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat menemukan jalan terang. Batang rumbia yang telah tua kini diolah menjadi tepung sagu yang bernilai ekonomi. Di Gampong Ladang, Kecamatan Samatiga, telah berdiri unit pengolahan sagu yang dikelola oleh ibu-ibu warga setempat. Melalui proses penyerutan, pengolahan, dan penjemuran, sagu berkualitas dihasilkan dan dijual seharga Rp12.000 per kilogram. Produk ini kini telah dikenal luas, bahkan hingga ke luar Kabupaten Aceh Barat.
Semangat kemandirian pangan pun terus diperkuat. Keuchik Gampong Ladang, Chairul Musca, menghimbau seluruh warga untuk tetap bersatu padu, khususnya para ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Saat ini, lahan seluas 50 meter sedang dibersihkan untuk penanaman bibit bawang merah bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat yang akan menjadi penanaman keempat kalinya di lokasi tersebut.
"Dengan kebersamaan dan ketekunan, keterbatasan dapat kita ubah menjadi peluang untuk kesejahteraan bersama," Ungkap Chairul Musca Dengan penuh harap
Tim Liputan : MUHIBBUL
Editor : Redaksi


